Selasa, 13 Oktober 2015

Pengaruh Lingkungan Terhadap Pembentukan Karakter dan Kepribadian

Pengaruh Lingkungan Terhadap Pembentukan Karakter dan Kepribadian
(individu,keluarga dan masyarakat)


Lingkungan mempunyai peran besar dalam pembentukan karakter, lingkungan yang baik akan menghasilkan generasi yang baik dilingkungannya. Baik buruknya lingkungan sangat besar perannya dari oknum-oknum tertentu, seperti keluarga, teman sebaya dan masyarakat.

Keluarga sangat amat berperan penting dalam perkembangan anak yang nantinya sang anak akan terjun kedalam masyarakat guna kelangsungan hidupnya kelak. Keluarga mendidik bagaimana tingkah laku,sikap,dasar sosial dalam bermasyarakat serta bagaimana bersopan santun yang sangat amat penting dalam bermasyarakat

Keluarga merupakan sistem awal pembelajaran bagi anak untuk mengenal dunia beserta isinya. Biasanya seorang anak akan menirukan apa yang dilihat dan didengar dari keluarganya khususnya dimasa ia kecil. Contohnya sebuah keluarga yang selalu bertengkar, seorang ayah yang selalu melakukan KDRT hal itu bisa membuat karakter anak menjadi brutal atau akan takut untuk bersosialisi.

Jadi seharusnya dari sejak kecil seorang anak harus dijaga lingkungan dalam keluarga, orang tua harus bisa menempatkan segala sesuatunya, harus berusaha tidak mengeluarkan kata-kata kotor di depan anak, harus berusaha agar tidak bertengkar kepada anak, bisa dibilang ayah dan ibu sebisa mungkin bisa menjadi seseorang yang sempurna didepan anaknya agar sang anak bisa terjun kelingkungan masyarakat dengan akhlak yang baik

Teman sebaya merupakan kelas kedua bagi anak untuk pembentukan karakter, sebagian besar kita bisa melihat perubahan karakter seorang anak disaat ia masih didalam lingkungan keluarga dan disaat ia sudah bermain dengan teman-temannya kususnya teman-teman yang kurang bagus.
Seorang anak yang biasanya bersikap baik, tidak pernah berbohong dan tidak pernah melakukan kekerasan bisa seketika berubah disaat ia berteman dengan teman-teman yang bersifat seperti itu.

Saya mengambil contoh dari kehidupan saya sendiri, saya mempunyai beberapa keponakan, sebelum keponakan saya terjun kedunianya bersama teman-temannya, anak ini tidak pernah berllaku kasar kepada adeknya, tetapi setelah ia mulai bergaul dengan teman-teman nya yang agak kurang bagus lambat laut sikapnya berubah, ia mulai tidak sopan kepada adeknya, ia mulai bisa melawan perkataan orang tua dan sangat sulit diatur.


Tingkatan ketiga pembentukan karakter seorang anak akan dipengaruhi lingkungan hidupnya, anak yang dibesarkan dilingkungan yang kurang teratur seperti anak yang dibesarkan dilingkungan yang selalu tawuran akan membentuk generasi yang selalu tawuran. Contohnya disalah satu daerah di pulau Sulawesi yang selalu tawuran anatar kampung yang tak pernah berdamai dari generasi-kegenerasi, hal ini terjadi karena sang anak selalu melihat dilingkungannya terjadi tawuran dengan kampung sebelah, hal ini akan membuat seorang anak akan menanamkan didirinya mereka jika besar nanti mereka akan tawuran seperti geberasi sebelum mereka. Oleh karena itu disebuah perkampungan itu tidak pernah berdamai dari generasi-generasi sebelumnya yang selalu menciptakan kaderikader generasi muda untuk tawuran.


Reff : http://www.kompasiana.com/www.bsaja/pengaruh-lingkungan-terhadap-karakter-anak_55107a8ea333117c39ba844a

Senin, 12 Oktober 2015

DAMPAK NEGATIF WESTERNISASI BAGI BUDAYA DAN GENERASI MUDA

DAMPAK NEGATIF WESTERNISASI  BAGI BUDAYA DAN GENERASI MUDA
Tema: Penduduk, Masyarakat dan Kebudayaan

Westernisasi merupakan sebuah arus besar yang memiliki jangkauan politik, sosial, budaya, dan teknologi. Westernisasi menggusur kepribadian suatu bangsa dengan menirukan gaya hidup daerah barat. Kemudian bangsa tersebut dijadikan boneka yang meniru secara total peradaban Barat. Beberapa akibat yang sudah mulai dirasakan antara lain:

Perubahan budaya
Perubahan budaya adalah perubahan yang terjadi akibat adanya ketidaksesuaian di antara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda hal ini terjadi karena masyarakat yang tidak bisa menyaring pengaruh dari barat.
Negara kita yang memiliki beragam budaya yang sangat menarik dengan corak yang berbeda-beda setiap daerahnya, seperti halnya tarian, lagu, pakaian adat dan bahasa, tatakrama. Semua itu sedikit demi sedikit sudah mulai pudar
Sekarang kita coba mengambil salah satu contoh dari suatu daerah Minang Kabau, yang dulunya dalam adat istiadat dimana rasa segan dan takut untuk berhubungan (pacaran) di depan umum yang digambarkan dalam novel yang sudah difilmkan dibawah lindungan ka’bah, dimana untuk bertemu saja mereka harus bersembunyi-sembunyi karena disaat itu pemuda diumur tertentu dilarang untuk bertemu dengan lawan jenis didaam cerita novel itu dicontohkan mereka harus berkomunikasi dibalik pagar rumah terkadang tanpa sepatah katapun, tetapi sekarang hal itu sudah hilang, hal ini juga salah satu pengaruh dari westernisasi yang mengadopsi dari film-film barat bagaimana gaya hidup mereka yang bebas yang bisa kumpul kebo hal ini sangat berbeda dengan budaya kita.
Gaya hidup
Kemajuan teknologi termasuk pengaruh dari westernisasi, dalam hal teknologi kita bisa melihat anak-anak yang dulu seorang anak sangat membutuhkan teman untuk bermain, sangat peduli dengan teman-teman dan lingkungannya, dimana untuk bermain kelereng mereka harus mempunyai teman untuk bisa bermain hal ini sangat bagus untuk seorang anak agar bisa mengkontrol emosi, melatih kepeduliannya kepada lingkungan sekitar, yang mengenal dan menyayangi alam karena mereka merasakan pentingnya alam bagi kehidupan mereka tetapi sekarang anak-anka sangat  sibuk dengan game-game di gadgetnya sehingga anak-anak tidak terlalu peduli dengan lingkungan sekitarnya karena mereka bisa bermain sendiri tanpa membutuhkan teman untuk bermain, biasanya anak-anak seperti ini akan bersifat egois dan ingin menang sendiri.

Cara Berpakaian
Hal ini bisa kita lihat dari cara berpakaian anak-anak sekarang, yang dulunya tertutup dan nyaman, sekarang malah terbuka seperti kekurangan bahan yang terlihat tidak nyaman karena mereka harus merasa kedinginan dan tidak nyaman karena merasa diperhatikan oleh orang-orang khususnya kaum laki-laki.
Pergaulan
Generasi muda adalah tulang punggung bangsa, yang diharapkan di masa depan mampu meneruskan tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini agar lebih baik. Dalam mempersiapkan generasi muda juga sangat tergantung kepada kesiapan masyarakat yakni dengan keberadaan budayanya. Termasuk didalamnya tentang pentingnya memberikan filter tentang perilaku-perilaku yang negatif, yang antara lain; minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang, sex bebas, dan lain-lain yang dapat menyebabkan terjangkitnya penyakit HIV/AIDS.
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan.
Akibatnya, di kalangan remaja kemnudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.

Jadi untuk bisa meminimalisir pengarug-pengaruh negative westernisasi terkhususnya bagi generasi muda. Para generasi penerus kepemimpinan negara mereka harus mampu memilah kelakuan atau prilaku yang harus diikuti, mereka harus memandang lebih jauh kedepannya, mereka tidak hanya memikirkan sesuatu hal itu kelihatan bagus dan indah untuk beberapa saat, tetapi mereka juga harus memikirkan resiko suatuu hal itu untuk masa yang akan datang. Meninggikan rasa memiliki, rasa cinta tanah air, rasa bangga menjadi warga negara Indonesia dengan menjaga adat istiadat, prilaku dan sopan santun

Reff : https://arindhaayuningtyas.wordpress.com/2012/04/13/pengaruh-westernisasi-dalam-kehidupan-sosial-budaya/